Pagelaran Wayang Kulit Jawa Timur Meriahkan 1166 Tahun Sewu Menusuk Sima di Makam Mbah Jenggot

SENI & BUDAYA

SIDOARJO, Metrocakrawala.id — Nuansa budaya dan tradisi Jawa Timur akan mewarnai kawasan Bungurasih, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Pagelaran wayang kulit Jawa Timur bakal digelar di pelataran Makam Mbah Ibrahim Al Jaelani atau yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Jenggot, pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Pagelaran tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 1166 Tahun Sewu Menusuk Sima, yang mengambil rentang tahun 860–2026. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan seni pertunjukan wayang kulit, tetapi juga mengangkat kembali tradisi, sejarah, serta kearifan lokal masyarakat Jawa Timur.

Dalam pagelaran tersebut, Ki Prenggo Jati Rahmanu akan tampil sebagai dalang dengan membawakan lakon “Babat Alas Monomarto”. Lakon tersebut diharapkan mampu memberikan hiburan sekaligus pesan moral dan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat yang hadir.

Lakon “Babat Alas Wonomarto” merupakan salah satu cerita populer dalam pewayangan Jawa yang mengisahkan perjuangan Pandawa Lima setelah memperoleh wilayah hutan yang masih liar dan belum berpenghuni.

Dalam kisahnya, Pandawa bersama para pengikutnya harus membuka Alas Wonomarto, sebuah kawasan hutan lebat yang penuh tantangan dan berbagai gangguan. Dengan keteguhan hati, keberanian, serta kerja keras, hutan tersebut secara perlahan dibabat dan diubah menjadi sebuah permukiman yang berkembang menjadi Kerajaan Amarta.

Perjalanan membuka hutan tidak berlangsung mudah. Pandawa menghadapi berbagai rintangan, termasuk kekuatan gaib dan makhluk-makhluk penghuni hutan. Peristiwa tersebut menjadi ujian bagi kesatuan dan keberanian Pandawa dalam membangun kehidupan baru.

Tokoh Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Yudhistira memiliki peran masing-masing dalam perjuangan tersebut. Sementara itu, kehadiran Kresna turut memberikan arahan dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai persoalan.

Secara filosofis, Babat Alas Wonomarto menggambarkan perjuangan manusia dalam mengubah keadaan dari sesuatu yang belum tertata menjadi kehidupan yang lebih baik. Hutan menjadi simbol tantangan, sedangkan proses membabatnya menggambarkan kerja keras, persatuan, keberanian, dan tekad membangun masa depan.

Lakon ini juga mengandung pesan bahwa sebuah kejayaan tidak datang secara instan. Dibutuhkan perjuangan, kebersamaan, kepemimpinan, serta kemampuan menghadapi berbagai rintangan sebelum tercipta kehidupan yang aman dan sejahtera.

Kemasan acara juga semakin semarak dengan kehadiran dua pelawak kondang, Cak Tawar Gonzales dan Cak Roso. Keduanya akan turut menghibur masyarakat dengan sajian lawakan khas Jawa Timur yang komunikatif dan sarat humor.

Selain pertunjukan wayang kulit, rangkaian kegiatan juga akan diisi dengan kirab ritual Menusuk Sima. Kirab tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan yang mengusung semangat pelestarian tradisi dan penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.

Suasana religius juga akan melengkapi kegiatan melalui lantunan sholawat Banjari yang diiringi Iksamu Samba Fun Musik. Perpaduan antara seni tradisional, sholawat, kirab budaya, dan wayang kulit diharapkan menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang kebersamaan masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan di pelataran Makam Mbah Ibrahim Al Jaelani atau Mbah Jenggot juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali keberadaan situs dan tradisi lokal kepada generasi muda.

Panitia berharap masyarakat dapat hadir dan ikut menyaksikan rangkaian kegiatan tersebut. Selain menjadi hiburan rakyat, pagelaran ini diharapkan mampu memperkuat kepedulian terhadap seni budaya Jawa Timur sekaligus menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Babat Alas Monomarto” pun diproyeksikan menjadi puncak hiburan malam tersebut, membawa penonton menyelami kisah pewayangan melalui kepiawaian Ki Prenggo Jati Rahmanu dalam memainkan karakter, dialog, serta iringan gamelan khas pertunjukan wayang kulit.

Melalui kegiatan 1166 Tahun Sewu Menusuk Sima, masyarakat diajak tidak sekadar menikmati pertunjukan, tetapi juga mengenal, merawat, dan mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya.

Red_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *