S
IDOARJO, METROCAKRAWALA.ID – Pukul 08.00 WIB, Senin (19/10/2026). Embun pagi masih menggantung di Jalan Raya Suko No.60, Desa Suko, Cemeng Kalang, Kecamatan Sidoarjo. Di sebuah bangunan sederhana berplang Yayasan Panti Rehabilitasi Mental Al-Hafizh, bukan isak tangis yang terdengar, melainkan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan bergiliran oleh para pasien.
Tim Media Nasional metrocakrawala.id hadir langsung di lokasi, disambut hangat oleh sang pendiri, sosok kharismatik yang akrab disapa Abah Shodikin. Dengan senyum teduh dan obrolan yang mengalir santai namun penuh makna, Abah Shodikin membuka tabir tentang 25 jiwa yang sedang ia perjuangkan untuk kembali menemukan jalan pulang.
DATA PANTI SAAT INI – SENIN 19 OKTOBER 2026
25 Pasien Laki-laki – 20 orang menetap di yayasan induk Sidoarjo (Jalan Raya Suko No.60), 5 orang di unit binaan Kebun Krecek, Tulungrejo, Bumiaji, Kota Batu – kawasan Wisata Petik Stroberi. Belajar membaur dengan alam.
“Saat ini kami membina 25 pasien, semuanya laki-laki. Rata-rata mereka tinggal di sini. 20 orang menetap di yayasan induk Sidoarjo ini, sementara 5 orang lainnya kami tempatkan di unit binaan kami di Kebun Krecek, Tulungrejo, Bumiaji, Kota Batu. Tepatnya di kawasan Wisata Petik Stroberi. Di sana mereka belajar membaur dengan alam.”
— ABAH SHODIKIN, Pendiri Yayasan Panti Rehabilitasi Mental Al-Hafizh
Bukan Sekadar Obat, Tapi Iman, Keringat dan Karya – 4 Pilar Al-Hafizh
Yang membuat liputan kali ini berbeda adalah sistem pembinaan Al-Hafizh yang jauh dari kesan panti rehabilitasi pada umumnya. Di sini, kesembuhan tidak hanya diukur dengan obat.
PILAR 1 – ROHANI
Sholat berjamaah 5 waktu wajib tak bisa ditawar. Muslim wajib mengaji. Nasrani diwajibkan ke gereja, agama lain menyesuaikan keyakinan masing-masing. Toleransi luar biasa.
PILAR 2 – JASMANI
Jadwal olahraga rutin diagendakan di hari-hari tertentu untuk menjaga kebugaran fisik. Jiwa yang sehat harus ditopang raga yang kuat.
PILAR 3 – KESEIMBANGAN JIWA
Ruang untuk menyanyi, bersuka ria, mengekspresikan minat dan bakat. “Kami ingin mereka bahagia, bukan merasa dipenjara.”
PILAR 4 – KETERAMPILAN (MAHKOTA KEMANDIRIAN)
Setiap hari dilatih membuat sandal dan sepatu. Hasil karya tangan penuh ketelatenan kini dinikmati masyarakat. Dari tangan tak berdaya lahir karya bernilai.
Sosok Ustadz Hasan Sanusi, Penjaga Jiwa di Garda Terdepan
Di balik kekokohan sistem ini, ada sosok spesial. Dialah Ustadz Hasan Sanusi. Karena rumahnya yang kebetulan berdekatan dengan yayasan, ia hampir 24 jam siaga. Dengan kesabaran luar biasa, Ustadz Hasan memberikan tausiah, bimbingan nyata, dan praktik kehidupan bermasyarakat.
Sekitar pukul 08.30 WIB, usai pembacaan Qur’an pagi secara bergantian oleh pasien, Ustadz Hasan Sanusi tampil memberikan tausiah singkat yang menyejukkan. Usai tausiah, Abah Shodikin langsung memimpin terapi ringan dan sesi tes kesehatan mandiri yang dilakukan oleh pasien itu sendiri, melatih rasa tanggung jawab atas tubuh mereka.
Tamparan Keras Soal Stigma ODGJ – Kalau Bukan Kita Siapa Lagi?
Namun dari semua kisah inspiratif itu, ada satu kegelisahan mendalam yang disampaikan Abah Shodikin dalam dialog intensnya bersama Ustadz Hasan Sanusi, dan ini menjadi renungan untuk kita semua.
Abah dengan nada prihatin menyoroti betapa timpangnya kepedulian masyarakat.
“Coba perhatikan. Kalau masyarakat, bahkan orang-orang berpendidikan tinggi, institusi, kantor-kantor, mendengar kata sedekah ke Panti Asuhan, antusiasme mereka luar biasa, berlomba-lomba. Tapi giliran begitu mendengar kata ODGJ – Orang Dengan Gangguan Jiwa – perhatian itu langsung buyar. Dianggap sia-sia. Seolah mereka bukan layak untuk disantuni.”
“Padahal keterbelakangan mental mereka ini tidak mereka minta. Hanya nasib kurang baik lah yang sedang berpihak pada mereka. Kalau kita belum bisa memahami situasi ini, akan terus ada sekat-sekat dalam kehidupan. Kita wajib bersyukur kepada Sang Pencipta, Allah SWT, bahwa hari ini kita diberi garis nasib yang baik, tidak seperti mereka. Maka pertanyaannya, setelah kita paham, kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi yang akan peduli pada mereka?”
— ABAH SHODIKIN – SEBUAH KALIMAT YANG MENGHANTAM KESADARAN
Menuju Kemandirian Digital Lewat TikTok
Tak berhenti pada keprihatinan, Al-Hafizh terus bergerak maju. Abah Shodikin membocorkan rencananya dalam waktu dekat.
“Kami akan menggandeng sebuah Komunitas Mitra, ingat, bukan sponsor, tapi Mitra untuk PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat). Mereka punya kompetensi, kapasitas, dan kemampuan berinteraksi dengan masyarakat luas melalui jejaring sosial TikTok. Ini langkah untuk pembelajaran kemandirian, agar mereka juga belajar masuk ke dunia yang serba digital.”
— ABAH SHODIKIN, Penuh Optimisme
Pukul 09.00 WIB lebih, kegiatan kembali normal. Para pasien dengan wajah sumringah kembali ke tempat kerja mereka, melanjutkan pembuatan sandal dan sepatu. Tangan-tangan itu bekerja. Di sanalah harapan dirajut kembali.
Dari Sidoarjo, metrocakrawala.id melaporkan, bahwa kemanusiaan tidak diukur dari seberapa sempurna seseorang, tapi dari seberapa tulus kita merangkul mereka yang tidak sempurna nasibnya.
Pewarta: metrocakrawala.id | Editor: metrocakrawala.id
Tim Liputan Khusus metrocakrawala.id | SIDOARJO – Senin, 19 Oktober 2026 | Jl. Raya Suko No.60 Desa Suko, Cemeng Kalang, Sidoarjo





