J
IKA dakwah diibaratkan sebuah denyut nadi, maka di Jawa Timur, denyut itu pernah dijaga dengan sangat rapi oleh sebuah lembaga bernama BAKOMUBIN. Badan Koordinasi Muballigh se-Indonesia.
Lembaga ini bukan lembaga kemarin sore. Jejaknya telah terukir sejak 7 Juni 1996. Di bawah restu dan perjuangan salah satu pendirinya, KH. Iswadi Idris (Almarhum), BAKOMUBIN Orwil Jawa Timur lahir dengan sebuah cita-cita yang jernih dan kokoh.
Visi: Fokus pada Pendidikan dan Keagamaan. Selaras UUD 1945 Pasal 29 ayat (1) tentang jaminan kemerdekaan memeluk agama, dan Pasal 31 ayat (1) tentang hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Motto: Untuk Kemaslahatan Umat
Sejak detik pertama kelahirannya, BAKOMUBIN tidak memilih jalan beroposisi. Ia memilih jalan sinergi.
Era Fondasi: Bersanding dengan Pemimpin Jawa Timur
Sinergi itu dimulai pada masa pemerintahan Gubernur Basofi Soedirman (26 Agustus 1993 – 23 Agustus 1998). Di masa inilah fondasi kepercayaan itu diletakkan. BAKOMUBIN hadir bukan sebagai tamu, tapi sebagai mitra pemerintah dalam membina mental spiritual masyarakat Jawa Timur.
Estafet kepemimpinan provinsi berlanjut kepada Gubernur Imam Utomo (23 Agustus 1998 – 26 Agustus 2008). Selama satu dekade, kolaborasi itu semakin matang. Panggung-panggung pengajian akbar, pelatihan da’i muda, seminar pendidikan agama untuk generasi milenial, hingga pemberdayaan muballigh-muballigh di pelosok desa, menjadi agenda rutin yang berjalan beriringan dengan program pembangunan Provinsi Jawa Timur.
Bahkan di masa transisi yang singkat, di bawah Pjs Gubernur Setia Purwaka (26 Agustus 2008 – 12 Februari 2009), selama 170 hari itu, program-program keumatan BAKOMUBIN tetap berjalan, tetap dianggap ada, tetap dirangkul.
Puncak Kejayaan: Bersama Pakde Karwo dan Wong Cilik
GOLDEN ERA 10 TAHUN
Jika ada masa yang bisa disebut sebagai puncak kejayaan, maka masa itu adalah 10 tahun kepemimpinan Gubernur Soekarwo, yang akrab disapa Pakde Karwo.
Pakde Karwo (12 Februari 2009 – 12 Februari 2019)
Di era inilah BAKOMUBIN Orwil Jatim di bawah komando KH. Iswadi Idris mencapai marwah tertingginya.
Visi Pakde Karwo untuk membangun masyarakat Jawa Timur yang berpendidikan, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, sejahtera, berkeadilan, mandiri dan berdaya saing, bersama Wong Cilik – menemukan resonansi yang sempurna dengan Visi BAKOMUBIN.
KH. Iswadi Idris bukan sekadar ketua organisasi di mata Pemprov saat itu. Beliau mendapatkan tempat yang sangat istimewa di lingkaran Pemerintahan Pakde Karwo. Beliau adalah penasihat, mitra dialog, penjaga moral. Dokumentasi foto, surat, dan catatan-catatan sinergi dari era itu masih tersimpan rapi hingga hari ini, menjadi saksi bisu betapa eratnya ulama dan umaro berjalan bersama.
Masa Sunyi: Ketika Dianggap Tidak Ada
Namun, sejarah tidak selalu berjalan lurus ke atas. Roda pemerintahan berputar. Sejak Jawa Timur memasuki era kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa periode pertama (13 Februari 2019 – 13 Februari 2024), perlahan namun pasti, ada yang hilang. Gaung BAKOMUBIN yang dulu lantang di Grahadi, mulai meredup.
Kondisi itu berlanjut di masa transisi Pj Gubernur Adhy Karyono (16 Februari 2024 – 20 Februari 2025), dan terasa semakin berat hingga kini, di periode kedua Gubernur Khofifah (20 Februari 2025 – sekarang).
Entah apa gerangan yang terjadi. Tidak ada penjelasan resmi. Tidak ada evaluasi terbuka. Tiba-tiba saja, lembaga yang telah mengabdi 29 tahun itu seperti dianggap tidak ada. Seperti disingkirkan dari peta pembinaan keagamaan Jawa Timur. Mungkin, ada oknum-oknum yang merasa risih dengan eksistensi lembaga yang independen dan berprinsip ini.
Tongkat Estafet di Pundak Gus ER
Beban sejarah yang berat itu kini berada di pundak sang penerus amanah, KH. Moch Sya’roni, S.Ag., MH.I., yang akrab disapa Gus ER. Beliau adalah sosok yang ditunjuk untuk meneruskan tongkat perjuangan Almarhum KH. Iswadi Idris. Tidak mudah. Sangat berat.
Di saat pintu sinergi dengan pemerintah provinsi seolah tertutup, Gus ER memilih untuk tidak meratap. Ia memilih untuk berbenah.
“BAKOMUBIN ini didirikan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk kemaslahatan jabatan. Jika hari ini negara belum memanggil kami, kami akan memanggil umat dengan kekuatan kami sendiri.”
— GUS ER
Kini, BAKOMUBIN Orwil Jatim berjalan dengan caranya sendiri. Dengan kekuatan swadaya para muballigh, dengan jaringan beberapa element dan lembaga lembaga yg sudah membuat MOU dengan lembaga BAKOMUBIN Orwil Jatim, misalnya advokasi dan Asosiasi Insan Pers serta di bawahnya ada banyak media2 jurnalistik yg ada di dalam naungannya, dengan keyakinan bahwa dakwah yang tulus tidak akan pernah mati hanya karena tidak diundang ke podium resmi.
29 tahun adalah usia yang matang. BAKOMUBIN telah melewati 6 Gubernur. Ia pernah dipeluk erat, dan kini ia pernah dilupakan. Namun cita-cita pendirinya tetap sama, tetap hidup: UNTUK KEMASLAHATAN UMAT.
Sumber Berita: Ketua BAKOMUBIN Orwil Jatim | Editor: metrocakrawala.id





