Advokat Rikha Permatasari, S.H., M.H., C.Med., C.LO., C.PIM : Menakar Integritas di Tengah Badai dari Tragedi Mojokerto

UTAMA

metrocakrawala.id || Surabaya – (29/4/2026) Dunia pers Jawa Timur saat ini sedang dirundung duka sekaligus refleksi mendalam. Peristiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang terjadi di Mojokerto menjadi tamparan keras, sebuah “pengalaman pahit” yang memaksa kita untuk melihat kembali ke dalam rumah tangga redaksi kita masing-masing. Di tengah situasi yang carut-marut ini, integritas dan profesionalisme bukan lagi sekadar slogan, melainkan harga mati.

Pemimpin Redaksi: Benteng Utama, Bukan Penonton Pasif

Advokat Rikha Permatasari, S.H., M.H., C.Med., C.LO., C.PIM., dalam pandangannya menekankan bahwa peran Ketua atau Pemimpin Redaksi (Pemred) sangat krusial. Seorang Pemred tidak boleh hanya duduk diam atau sekadar menerima laporan.

“Pentingnya seorang pimpinan media bertindak profesional dan memiliki integrasi kuat dalam mengawal setiap berita yang diunggah anggotanya,” tegasnya. Pemred adalah filter pertama dan pelindung terakhir. Ketika seorang jurnalis bergerak di lapangan, tanggung jawab moral dan hukum juga melekat pada pundak pimpinan. Diamnya seorang pimpinan saat anggotanya bermasalah adalah bentuk kegagalan regenerasi dan perlindungan profesi.

Solidaritas dan Urgensi Aliansi Jurnalis Jawa Timur

Kasus ini menjadi momentum untuk mempererat solidaritas sesama jurnalis. Profesi ini memiliki risiko tinggi, dan tanpa persatuan yang kuat, jurnalis akan sangat rentan terhadap intervensi maupun kriminalisasi.

Gagasan mengenai perlunya membentuk Aliansi Jurnalis Jawa Timur menjadi semakin relevan. Wadah ini diharapkan mampu menaungi para jurnalis, khususnya di wilayah Jatim, agar memiliki standar profesi yang seragam, perlindungan hukum yang jelas, serta memperkuat posisi tawar jurnalis dalam menjaga independensinya.

Dedikasi Tanpa Pamrih demi Independensi

Di balik upaya pembersihan nama baik profesi ini, dedikasi Advokat Rikha Permatasari S.H., M.H., C.Med., C.LO., C.PIM. patut menjadi catatan sejarah bagi jurnalis di Jawa Timur. Langkahnya dalam menangani kasus ini dilakukan dengan perjuangan tanpa lelah, bergerak murni demi tegaknya keadilan tanpa mengharapkan imbalan materiil atau kepentingan pribadi.

Perjuangan ini adalah bukti nyata bahwa kepentingan masyarakat dan kemerdekaan pers yang independen harus berada di atas segalanya. Pers yang bersih hanya bisa tercipta jika didukung oleh sistem hukum yang jujur dan jurnalis yang memiliki integritas tinggi.


“Jurnalisme bukanlah tentang siapa yang paling cepat mengunggah berita, tapi tentang siapa yang paling berani menjaga kebenaran dan integritas di tengah godaan yang ada.”

editor : Pim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *