
JOMBANG | Metrocakrawala.id – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, diharapkan tidak berhenti sebagai forum konsolidasi organisasi. Perhelatan akbar tersebut didorong menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran NU dalam mengawal pembangunan dan mempercepat kemajuan bangsa. Harapan itu disampaikan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhamad Mardiono saat menghadiri pembukaan Muktamar NU ke-35 di Jombang, Jumat (28/8/2026).
Menurut Mardiono, Muktamar NU memiliki posisi penting karena menjadi ruang bagi warga Nahdliyin untuk melakukan evaluasi, konsolidasi sekaligus menentukan arah organisasi ke depan. Dengan besarnya basis massa dan sejarah panjang NU dalam perjalanan Indonesia, hasil muktamar dinilai akan memiliki dampak lebih luas dari sekadar kepentingan internal organisasi. “Semoga Muktamar ke-35 ini menjadi bagian dari tonggak sejarah untuk mendorong kebangkitan Indonesia lebih cepat lagi dan dapat segera menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sesuai cita-cita founding fathers kita,” kata Mardiono.
Puluhan Ribu Nahdliyin Hadiri Pembukaan
Pembukaan Muktamar NU ke-35 berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus semarak. Puluhan ribu warga Nahdliyin dari berbagai daerah memadati kawasan Tambakberas untuk mengikuti rangkaian perhelatan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Mardiono menyebut antusiasme warga NU menjadi gambaran kuatnya soliditas organisasi serta besarnya perhatian masyarakat terhadap perjalanan NU.
“Alhamdulillah saya dapat menghadiri pembukaan Muktamar NU ke-35 di Jombang. Berlangsung khidmat dan dimeriahkan oleh seluruh warga NU yang jumlahnya lebih dari 50 ribu orang,” ujarnya.
Kehadiran massa dalam jumlah besar tersebut sekaligus menunjukkan bahwa NU masih memiliki pengaruh sosial yang kuat di tengah dinamika kehidupan masyarakat. Muktamar bukan hanya menjadi ruang pertemuan para pengurus dan peserta, tetapi juga menjadi bagian dari peristiwa sosial-keagamaan yang melibatkan masyarakat secara luas.
Ulama dan Umara Harus Berjalan Seiring
Dalam kesempatan tersebut, Mardiono juga menyoroti pentingnya hubungan antara ulama dan pemerintah atau umara. Menurut dia, pembangunan bangsa membutuhkan kolaborasi antara kekuatan moral-keagamaan dengan kebijakan pemerintahan. Ulama dinilai memiliki peran penting dalam memberikan panduan moral kepada masyarakat, sementara pemerintah mempunyai tanggung jawab menjalankan tata kelola negara dan memastikan pembangunan berjalan untuk kepentingan rakyat.
Karena itu, keselarasan antara ulama dan umara menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesinambungan pembangunan nasional.
“Tentu ulama dan umara harus menyatu dan sejalan untuk melanjutkan perjuangan Indonesia,” tegas Mardiono.
Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan Muktamar NU ke-35 dalam konteks yang lebih luas. Selain menentukan arah organisasi, forum tersebut diharapkan mampu melahirkan gagasan yang relevan dengan persoalan bangsa, mulai dari penguatan ekonomi umat, pendidikan, kesejahteraan sosial hingga pembangunan sumber daya manusia.

Harapan Lahirkan Kepemimpinan yang Amanah
Mardiono juga berharap proses Muktamar NU ke-35 menghasilkan kepengurusan yang mampu menjalankan amanah organisasi dan menjawab tantangan zaman. Menurutnya, kepemimpinan NU ke depan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga nilai-nilai organisasi sekaligus memperluas kontribusi NU bagi masyarakat, umat, dan negara.
“Semoga menghasilkan kepengurusan yang amanah dan dapat memajukan umat, bangsa, dan negara. Sukses Muktamar NU ke-35,” ujarnya.
Harapan tersebut menjadi bagian penting dari dinamika Muktamar ke-35. Kepemimpinan yang lahir dari forum tersebut nantinya akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, baik dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, maupun kehidupan kebangsaan. Dengan basis warga yang besar dan jaringan organisasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, NU dinilai memiliki kapasitas untuk ikut mendorong penyelesaian berbagai persoalan nasional.
( Ibnu/Jombang )

