
Metrocakrawala.id || SIDOARJO – Peringatan Hari Jadi atau Manusuk Sima Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, yang memasuki usia ke-1.166 tahun berlangsung semarak dan sarat pesan pelestarian budaya. Kegiatan yang digelar pada Sabtu malam (22/8) tersebut mendapat apresiasi dari Camat Waru, Achmad Farkan Jazuli, S.STP., M.M.
Dalam sambutannya, Farkan memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan Sumpah Bungurasih yang terdiri atas lima poin. Menurutnya, sumpah tersebut memiliki nilai yang kuat sebagai pedoman moral sekaligus identitas masyarakat Desa Bungurasih. Farkan bahkan mengusulkan agar Sumpah Bungurasih dapat dimanfaatkan sebagai ikrar kesetiaan bagi perangkat desa. Ia menilai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya selaras dengan semangat pengabdian serta budaya masyarakat setempat.
“Kalau di Korpri ada Prasetya Panca Karsa, maka Bungurasih dapat menggunakan Sumpah Bungurasih untuk ikrar kesetiaan bagi perangkat desa. Karena sumpah tersebut sangat cocok dengan kita, terutama dengan budaya yang ada di Bungurasih ini,” ujar Farkan.
Ia juga menyebut Sumpah Bungurasih relevan untuk dikenalkan kepada generasi muda. Bahkan, saat pelantikan pengurus Karang Taruna Desa Bungurasih, nilai-nilai yang terdapat dalam sumpah tersebut dinilai dapat disampaikan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kecintaan terhadap budaya lokal.
Usulan Tagline Bungurasih
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, H. Abdillah Nasikh, yang juga warga Desa Bungurasih, mendorong agar desa tersebut memiliki tagline yang mampu merepresentasikan karakter masyarakat sekaligus semangat menjaga warisan leluhur. Nasikh menilai tagline tersebut dapat menjadi identitas bersama ketika nama Bungurasih diteriakkan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Ia mengacu pada bagian akhir Sumpah Bungurasih yang berbunyi:
“Bungurasih Lestari. Guyub, Rukun, Makmur. Bersama Menjaga Warisan Leluhur.”
Menurut Nasikh, peringatan Manusuk Sima bukan sekadar seremoni tahunan. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mengenalkan kembali sejarah dan kebudayaan Bungurasih kepada generasi penerus.
“Acara ini juga merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya. Karena setiap babat alas pasti membawa budaya, membawa tata cara, membawa adat istiadat,” kata Nasikh.
Ia berharap generasi muda, khususnya anak-anak Karang Taruna, tidak kehilangan hubungan dengan akar budaya daerahnya.
“Budaya Bungurasih ini luar biasa. Guyupnya, rukunnya, tepo selironya. Ini adalah warisan-warisan leluhur kita,” imbuhnya.
Mengenang Sejarah di Makam Mbah Ibrahim Al Jaelani
Peringatan Hari Jadi Bungurasih ke-1.166 juga menjadi ruang untuk mengenang perjalanan sejarah desa. Rangkaian kegiatan dipusatkan di pelataran Makam Mbah Ibrahim Al Jaelani, yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Kramat, di Bungurasih Tengah. Nasikh menyebut kegiatan tersebut penting untuk memperkenalkan sejarah lahirnya Bungurasih kepada masyarakat, terutama generasi muda. Ia mengakui bahwa terdapat sejumlah versi mengenai sejarah awal Bungurasih. Namun, perbedaan versi tersebut dinilai sebagai bagian dari dinamika sejarah yang perlu dikaji dan didokumentasikan. Ke depan, akan dilakukan revisi terhadap buku sejarah pertama Bungurasih sehingga dapat menjadi bahan napak tilas sejarah bagi masyarakat. Dengan demikian, Manusuk Sima tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap perjalanan panjang Desa Bungurasih.
Kirab Manusuk Sima dan Pagelaran Wayang Kulit
Puncak peringatan Hari Jadi Bungurasih ke-1.166 ditandai dengan pagelaran Wayang Kulit Jawa Timuran dengan lakon “Babat Alas Wonomarto”. Pertunjukan tersebut menghadirkan dalang Ki Pringgo Jati Rahmanu, dengan selingan lawak dari Cak Tawar Gonzales dan Cak Roso. Sebelum pagelaran wayang dimulai, rangkaian acara telah berlangsung sejak pukul 16.00 WIB melalui Kirab Manusuk Sima. Kirab diikuti anggota Karang Taruna bersama masyarakat. Mereka membawa berbagai hasil bumi, tumpeng, bunga, penjor janur, umbul-umbul, daun klaras, hingga rombongan Ishari Bungurasih. Kirab tersebut dikemas secara teatrikal oleh sutradara Meimura, sehingga tidak hanya menjadi arak-arakan, tetapi juga menghadirkan gambaran simbolik mengenai perjalanan sejarah dan tradisi masyarakat Bungurasih. Suasana semakin meriah dengan penampilan Grup Banjari IKSAMU (Ikatan Santri Amanatul Muslimah) Bungurasih Timur, Samba Fun Music, Klenengan Karawitan, Campursari, serta Tari Remo. Pada kesempatan yang sama, dilakukan pula pelantikan pengurus Karang Taruna Desa Bungurasih oleh Kepala Desa Bungurasih.
Ruang Publik dan Pelestarian Budaya
Ketua Panitia, Henri Nurcahyo, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan ruang publik melalui dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Menurut Henri, kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai peringatan hari jadi desa, tetapi juga sebagai ruang bertemunya masyarakat, seniman, generasi muda, serta para pelaku kebudayaan.
“Ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali ruang publik sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Bungurasih kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Henri yang juga merupakan tokoh masyarakat Desa Bungurasih menjelaskan bahwa secara kalender sejarah, peringatan Hari Jadi Bungurasih sebenarnya jatuh pada 31 Oktober. Namun, pelaksanaan tahun ini dimajukan ke bulan Agustus karena pertimbangan teknis. Pemilihan bulan Agustus sekaligus menjadi bagian dari upaya memeriahkan peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Peringatan Hari Jadi Bungurasih ke-1.166 akhirnya tidak sekadar menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi panggung untuk mempertemukan sejarah, seni, tradisi, dan semangat generasi muda dalam satu ruang kebudayaan.
Melalui Sumpah Bungurasih, kirab Manusuk Sima, hingga pagelaran Wayang Kulit Jawa Timuran, masyarakat diajak kembali melihat bahwa kemajuan sebuah desa tidak harus membuatnya meninggalkan akar sejarah. Justru dari sejarah, budaya, keguyuban, kerukunan, serta nilai-nilai warisan leluhur itulah identitas Bungurasih terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Red_

